Feature, label, statistik deskriptif, korelasi, dan kenapa data harus diskalakan.
Setiap data ML berbentuk tabel: baris = sampel, kolom = feature (input), dan satu kolom label (yang mau diprediksi).
Di simulator, data diwakili X (list of list) dan y (list).
make_classification(), make_blobs(), dll. menghasilkan pasangan (X, y) ini.
| Ukuran | Fungsi | Catatan |
|---|---|---|
mean | Rata-rata | Sensitif terhadap outlier |
median | Tengah data | Tahan outlier — bandingkan dengan mean! |
std | Sebaran data | Besar = data menyebar |
min/max | Range | Deteksi nilai mustahil (usia 200?) |
correlation | Hubungan linear 2 fitur, [-1..1] | |r|>0.7 = kuat; r=0 bukan berarti "tidak berhubungan" (bisa non-linear) |
Langkah pertama sebelum modeling: kenali datamu. Statistik + grafik + korelasi.
Banyak algoritma (KNN, SVM, neural network, gradient descent) sensitif terhadap skala fitur. Jika satu fitur bernilai 0–1000 dan fitur lain 0–1, fitur besar akan "mendominasi" perhitungan jarak.
Bukti nyata kenapa scaling penting — lihat bagaimana fitur "gaji" mendominasi jarak:
correlation(f1, f2) per kelas (kelas 0 dan kelas 1 terpisah). Apa bedanya?xs = [1, 2, 2, 3, 3, 3, 4, 100]. Bandingkan mean vs median, lalu bandingkan hasil normalize() vs standardize(). Mana yang lebih "aman"?correlation = 0 tidak berarti dua variabel tidak berhubungan. (Petunjuk: coba data y = x² untuk x simetris di sekitar 0.)if x < threshold.)