š² Hierarchical Clustering & DBSCAN
Dua alternatif k-means: penggabungan bertingkat (dendrogram) dan clustering berbasis densitas (deteksi outlier).
š 1. Hierarchical (Agglomerative) Clustering
Ide: mulai tiap titik = cluster sendiri, lalu GABUNGKAN yang terdekat,
berulang sampai tersisa k cluster.
ā ā ā āā ā ā ā gabung 2 terdekat
\ / \ /
ā ā
| |
āāāāāāāāā ā gabung antar-cluster
|
ā
LINKAGE = cara mengukur jarak antar-cluster:
⢠Single : jarak titik TERDEKAT antar cluster (rawan "chain effect")
⢠Complete : jarak titik TERJAUH (cluster cenderung kompak)
⢠Average : jarak rata-rata semua pasangan (paling umum)
Kelebihan: tidak perlu menentukan k di awal ā dendrogram (pohon penggabungan)
menunjukkan struktur pada SEMUA level; bisa dipotong di mana saja.
Kekurangan: O(n³) ā lambat untuk data besar; keputusan gabung tidak bisa dibatalkan.
š 2. DBSCAN: Clustering Berbasis Densitas
DBSCAN (Density-Based Spatial Clustering of Applications with Noise)
Parameter: eps (radius) dan min_samples (kerapatan minimum)
⢠CORE POINT : ada ℠min_samples titik dalam radius eps
⢠BORDER POINT : bukan core, tapi berada dalam radius eps titik core
⢠NOISE : sisanya ā OUTLIER!
Cluster = titik core + semua border yang "terjangkau" dari core.
Kelebihan:
⢠Jumlah cluster TIDAK perlu ditentukan (muncul sendiri)
⢠Bisa menemukan cluster BENTUK APA PUN (bulan, cincin, spiral)
⢠BONUS: secara alami menandai OUTLIER (k-means tidak bisa!)
Kekurangan: sensitif terhadap eps; kinerja turun di densitas tidak seragam.